Minggu, 03 Juli 2011

ERAU

Berhubung di kota saya sedang berlangsung pesta adat Erau, maka kali ini saya akan memposting sedikit tentang Erau itu sendiri.


Erau adalah sebuah tradisi budaya Indonesia yang dilaksanakan setiap tahun dengan pusat kegiatan di kota Tenggarong, Kutai Kartanegara. Erau berasal dari bahasa Kutai, eroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.


Sejarah Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.
Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.
Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.
Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara pada tahun 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.
Pelaksanaan Erau
Belimbur, acara puncak dari Erau dengan saling siram-menyiram.
Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.
Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan. Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782.
Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M. Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai Kartanegara dengan kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan olahraga/ketangkasan.
Waktu Pelaksanaan
Meskipun Erau dikaitkan pelaksanaannya dengan ulang tahun kota namun beberapa jadwal Erau dilaksanakan pada waktu lainnya.
Tahun
Mulai
Berakhir
Keterangan
2001
22 September
30 September

2002
28 September
-
Bersamaan dengan Festival Keraton Nusantara
2003
22 September
29 September

2004
27 Desember
3 Januari 2005

2008
14 Desember
22 Desember

2009
22 Juli
3 Agustus

2010
15 Juli
19 Juli

2011
3 Juli
10 Juli
Pra pembukaan sejak 29 Juni: Beluluh Sultan, Menjamu Benua, Merangin. Paska penutupan 11 Juli: Merebahkan Ayu

Erau sebagai pesta budaya
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai untuk menjadikan Erau sebagai pesta budaya yakni dengan menetapkan waktu pelaksanaan Erau secara tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kesultanan Kutai Kartanegara. Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegagara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

sumber: wikipedia
Sekian postingan untuk Erau, kapan-kapan lanjut lagi yoo...

Sabtu, 02 Juli 2011

PEACE

PEACE, tahu dong apa artinya..!?!
Berikut simbol-simbol yang digunakan sebagai lambang "PEACE":

1. Pita Putih, adalah simbol The White Ribbon Campaign (WRC). WRC bertujuan untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Kampanye yang dilakukan juga tergolong unik. Bukan fokus pada penanganan kasus kekerasan, WRC justru lebih fokus dalam pencegahan. Makanya, kampanye mereka dilakukan dengan cara memberi pendidikan bagi semua orang, supaya mereka menghentikan kekerasan terhadap perempuan (memakai white ribbon berarti kita berjanji untuk gak pernah melakukan, tutup mata, atau diam saja ketika melihat adanya kekerasan terhadap perempuan).

2. V-sign, simbol V ini pertama kali dikenal di Eropa selama Perang Dunia kedua. Simbol yang awalnya sering digambar di tembok-tembok kota sebagai bentuk protes rakyat yang menginginkan kebebasan dari penjajahan, lalu mulai sering digunakan oleh gerakan perdamaian pada tahun 1960-1970 sebagai simbol kemenangan untuk perdamaian dan kebenaran ( Winston Churchill, Perdana Menteri Britania Raya yang sekarang menjadi Inggris yang pertama kali mempopulerkan tanda V ini).


3. Peace Rainbow Flag, diklaim sebagai "bendera perdamaian". Simbol satu ini berbentuk bendera dengan tujuh warna pelangi (MEJIKUHIBINIU) dengan hiasan kata "PEACE" di tengahnya.

4. Kata "Shalom atau Salaam", kata ini biasanya digunakan untuk menyapa seseorang. Kata ini diambil dari bahasa Ibrani yang berarti "damai"

5. Burung Merpati Membawa Daun Zaitun, burung merpati adalah simbol perdamaian yang paling mudah dikenali. Gambar ini dianggap sebagai lambang perdamaian setelah Pablo Picasso, menggunakan gambar burung merpati yang sedang membawa daun zaitun sebagai ilustrasi yang ia desain untuk Kongres Perdamaian di Paris pada tahun 1949. Sejak itu, gambar ini dipakai secara luas untuk melambangkan perdamaian.

6. White Poppy, sebuah bunga mungil berwarna putih yang digunakan sebagai alat kampanye oleh Cooperative Women's Guild, sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang perdamaian.

7. Panda, hewan lucu ini menjadi simbol perdamaian diplomatis yang terbentuk antara China dengan Taiwan. Jadi, pada tahun 2006, pemerintah China memberikan dua ekor panda kepada pemerintah Taiwan sebagai lambang mereka hendak memperbaiki hubungan yang telah terpecah semenjak Perang Sipil pada tahun 1949.


Sekian info kali ini.....(^_^)
kaWanku_edisi 59

Kamis, 30 Juni 2011

hai, akhirnya saya punya blog..!!


Haha, setelah berpikir dan bertapa bertahun-tahun, akhirnya saya teguhkan hati dan mantapkan jiwa untuk ngebuat sebuah blog. Semua berawal dari sebuah pencerahan yang diberikan oleh seorang teman. Sebenarnya keinginan untuk ngeblog sudah ada sejak membaca sebuah blog milik Raditya Dika "Kambing Jantan", dari sini saya mulai tertarik. Akan tetapi karena ke-gaptek-an saya dan kesibukan yang tidak jelas membuat saya menunda-nunda membuat blog + takut blognya gak keurus. Tapi, dengan mandi kembang 7 rupa yang airnya diberi susu kental manis, nongkrong di kuburan depan kost-kost'an ampe nongkrong di mall, akhirnya lahirlah blog saya ini blog "bagi-bagi". Postingan pertama saya ini jelas berisi hal-hal yang tidak penting, tapi kedepannya saya usahakan untuk memposting dan membagi-bagikan hal-hal yang jauh lebih baik atau setidaknya dapat memberikan sedikit informasi & manfaat bagi pembacanya, namanya juga bagi-bagi. Sepertinya cukup sekian postingan perdana saya. Selain sudah malam, besok pagi saya juga akan menghadiri sebuah seminar (gaya banget sih saya, pake ngehadirin seminar segala..)hehe. fay..fay...